20/05/14

Multikulturalisme


PENGERTIAN MULTIKULTURALISME

     Menurut etomologi katanya, multikulturalisme terdiri dari tiga kata yang penting yaitu multi yang berarti banyak atau beragam, culture yang berarti kebudayaan atau budaya, serta isme yang menunjukkan suatu aliran atau pandangan, jadi dapat dikatakan bahwa multikulturalisme adalah  pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat.

     Multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra).

     Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices, Parekh).

     Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum).

     Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Watson).

     Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (M. Atho Muzhar). 

Faktor Penghambat Multikulturalisme

     Berikut merupakan penghambat-penghambat terjadinya multikulturalisme terutama di Indonesia :

1.  Menganggap budaya sendiri yang paling baik. Pengakuan terhadap budaya sendiri yang berlebihan dapat mengarah kepada kecintaan pada diri sendiri atau kelompoknya yang disebut narsisme budaya. Sikap ini merupakan warisan dari kolonialisme yang menganggap bahwa bangsa jajahannya rendah dan memiliki kebudayaan inferior. Sebaiknya, penjajah memiliki kebudayaan superior.

2.   Pertentangan antara budaya barat dan budaya timur. Dalam masyarakat dunia, ada pandangan yang menganggap budaya barat sebagai budaya progresif atau maju yang sarat dengan kedinamisan. Sebaliknya, budaya timur diidentikkan dengan budaya yang dingin dan kurang dinamis. Pertentangan ini cenderung Eropa-sentris sehingga mengakibatkan westernisasi di berbagai bidang kehidupan.

3.  Plularisme budaya dianggap sebagai sesuatu yang eksotik. Hal itu merupakan pandangan yang banyak dianut oleh para pengamat barat terhadap pluralisme. Mereka menganggap budaya lain di luar budayanya sebagai budaya luar. Merreka memandang budaya lain memiliki sifat eksotik dan menarik perhatian dan bukan dihargai sebagai budaya yang memiliki kekhasan yang berbeda dengan budayanya.

4.  Pandangan yang paternalistik. Ada banyak peneliti dan pengamat budaya dari kaum lakilaki yang masih menganut paham paternalistic. Hal itu tentu saja menimbulkan bias gender terhadap perempuan. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat memandang status perempuan sebagai sesuatu yang minor dan disubordinasikan dari peran lakilaki.

5.   Mencari apa yang disebut indigenous culture, yaitu mencari sesuatu yang dianggap asli. Sebagai contoh di Jakarta, ada kecenderungan menamai gedunggedung dengan nama bahasa Sansekerta. Pada era globalisasi, pemujaan terhadap indigenous culture merupakan sikap yang mempertentangkan istilah barat dan non barat. Pada era tersebut, kerjasama internasional tidak mengharamkan penggunaan unsurunsur budaya lain yang dapat diapdosi dan disesuaikan dengan lingkungan budaya yang berbeda.

6. Pandangan negatif penduduk asli terhadap orang asing yang dapat berbicara mengenai kebudayaan penduduk asli. Walaupun masyarakat yang memiliki budaya tahu banyak tentang budayanya, bukan berarti orang lain atau orang asing tidak boleh mempelajari budaya masyarakat tersebut. 

Faktor Pendukung Multikulturalisme

     Berikut merupakan sikap-sikap yang didapat mendukung multikulturalisme di Indonesia, sebagai berikut :

a. Membangun kehidupan multikultural yang sehat, dengan meningkatkan toleransi dan apresiasi antar budaya serta meningkatkan pemahaman

b. Peningkatan peran media komunikasi sebagai media sensor dan korektor terhadap penyimpanan norma sosial yang dominan

c. Penerapan strategi pendidikan yang berbasis budaya

d. Pengelolaan sumber daya alam dengan penerapan manajemen etika oleh berbagai organisasi, lemabaga, atau pranata yang ada dalam masyarakat. 

Praktek Penerapan Multikulturalisme

     Di dalam lingkungan saya, cara kami untuk penerapkan dan membangun kehidupan multikulturalisme adalah dengan menghormati perbedaan di antara kami. Saat tetangga saya merayakan Idul Fitri, saya dan keluarga ikut serta memeriahkan acara mereka dan menikmatinya bersama-sama. Sebaliknya, saat keluarga saya merayakan Natal, para tetangga datang ke rumah kami dan berkumpul bersama layaknya sebuah keluarga besar. Pada saat Ramadhan, kami yang tidak menjalani ikut membantu mereka dengan tidak menggoda mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar