PENGERTIAN MULTIKULTURALISME
Menurut etomologi katanya,
multikulturalisme terdiri dari tiga kata yang penting yaitu multi yang berarti banyak atau beragam,
culture yang berarti kebudayaan atau budaya, serta isme yang menunjukkan suatu
aliran atau pandangan, jadi dapat dikatakan bahwa multikulturalisme adalah pandangan seseorang tentang ragam kehidupan
di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan
terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada
dalam kehidupan masyarakat.
Multikulturalisme pada dasarnya adalah
pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan
kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas,
dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme
dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam
kesadaran politik (Azyumardi Azra).
Masyarakat multikultural adalah suatu
masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala
kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem
arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several
cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception
of the world, system of meaning, values, forms of social organizations,
historis, customs and practices”, Parekh).
Multikulturalisme mencakup suatu
pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu
penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum).
Sebuah ideologi yang mengakui dan
mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara
kebudayaan (Watson).
Multikulturalisme mencakup gagasan, cara
pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang
majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai
cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai
kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (M. Atho Muzhar).
Faktor Penghambat Multikulturalisme
Faktor Penghambat Multikulturalisme
Berikut merupakan penghambat-penghambat
terjadinya multikulturalisme terutama di Indonesia :
1. Menganggap budaya sendiri yang paling
baik. Pengakuan terhadap budaya sendiri yang berlebihan dapat mengarah kepada
kecintaan pada diri sendiri atau kelompoknya yang disebut narsisme budaya. Sikap ini merupakan warisan dari kolonialisme yang
menganggap bahwa bangsa jajahannya rendah dan memiliki kebudayaan inferior.
Sebaiknya, penjajah memiliki kebudayaan superior.
2. Pertentangan antara budaya barat dan
budaya timur. Dalam masyarakat dunia, ada pandangan yang menganggap budaya
barat sebagai budaya progresif atau maju yang sarat dengan kedinamisan.
Sebaliknya, budaya timur diidentikkan dengan budaya yang dingin dan kurang
dinamis. Pertentangan ini cenderung Eropa-sentris sehingga mengakibatkan
westernisasi di berbagai bidang kehidupan.
3. Plularisme budaya dianggap sebagai sesuatu
yang eksotik. Hal itu merupakan pandangan yang banyak dianut oleh para pengamat
barat terhadap pluralisme. Mereka menganggap budaya lain di luar budayanya
sebagai budaya luar. Merreka memandang budaya lain memiliki sifat eksotik dan
menarik perhatian dan bukan dihargai sebagai budaya yang memiliki kekhasan yang
berbeda dengan budayanya.
4. Pandangan yang paternalistik. Ada banyak
peneliti dan pengamat budaya dari kaum laki–laki yang masih menganut paham paternalistic. Hal itu tentu saja
menimbulkan bias gender terhadap
perempuan. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat memandang status perempuan
sebagai sesuatu yang minor dan disubordinasikan dari peran laki–laki.
5. Mencari apa yang disebut indigenous culture, yaitu mencari sesuatu
yang dianggap asli. Sebagai contoh di Jakarta, ada kecenderungan menamai gedung–gedung dengan nama bahasa Sansekerta. Pada
era globalisasi, pemujaan terhadap indigenous
culture merupakan sikap yang mempertentangkan istilah barat dan non barat.
Pada era tersebut, kerjasama internasional tidak mengharamkan penggunaan unsur–unsur budaya lain yang dapat diapdosi dan
disesuaikan dengan lingkungan budaya yang berbeda.
6. Pandangan negatif penduduk asli terhadap orang
asing yang dapat berbicara mengenai kebudayaan penduduk asli. Walaupun
masyarakat yang memiliki budaya tahu banyak tentang budayanya, bukan berarti
orang lain atau orang asing tidak boleh mempelajari budaya masyarakat tersebut.
Faktor Pendukung Multikulturalisme
Faktor Pendukung Multikulturalisme
Berikut merupakan sikap-sikap yang didapat mendukung multikulturalisme
di Indonesia, sebagai berikut :
a. Membangun kehidupan multikultural yang
sehat, dengan meningkatkan toleransi dan apresiasi antar budaya serta
meningkatkan pemahaman
b. Peningkatan peran media komunikasi
sebagai media sensor dan korektor terhadap penyimpanan norma sosial yang
dominan
c. Penerapan strategi pendidikan yang
berbasis budaya
d. Pengelolaan sumber daya alam dengan
penerapan manajemen etika oleh berbagai organisasi, lemabaga, atau pranata yang
ada dalam masyarakat.
Praktek Penerapan Multikulturalisme
Praktek Penerapan Multikulturalisme
Di dalam lingkungan saya, cara kami untuk
penerapkan dan membangun kehidupan multikulturalisme adalah dengan menghormati
perbedaan di antara kami. Saat tetangga saya merayakan Idul Fitri, saya dan
keluarga ikut serta memeriahkan acara mereka dan menikmatinya bersama-sama.
Sebaliknya, saat keluarga saya merayakan Natal, para tetangga datang ke rumah
kami dan berkumpul bersama layaknya sebuah keluarga besar. Pada saat Ramadhan,
kami yang tidak menjalani ikut membantu mereka dengan tidak menggoda mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar